Monday, January 09, 2012
|
By Rivki Novita Putri
Desember 2011 dan Januari 2012 banyak sekali agenda bepergian yang dilakukan menggunakan mobil. Gila sumpah. Tahu sendiri kan kalo aku mabuk darat alias mabuk kendaraan *ndeso!!* Mana semua orang pada bilang, "Anak muda duduk di belakang", eh sumpah mampus sudah deh. Orang duduk di depan aja belum tentu selamat dari tu penyakit.
Menyambut tahun baru rute perjalanannya adalah Wonosobo-Magelang-Kutoarjo. Awal tahun mencoba menyusuri Purwokerto. Dan kemarin, kembali menyusuri Kota Wisata itu, tentu dengan berbagai alasan dan kepentingan.
Tahu kah kamu?? Sebelum naik mobil alias dengan hanya mencium bau mobil saja perutku sudah mual-mual tak karuan *nggak ada bakat jadi orang kaya*. Tapi kutahan alias diempet. Sumpah gak enak banget rasanya. Hanya Wonosobo-Purwokerto aja rasanya sangat jauuuuhhhhh banget.
Tapi sekarang, sudah tak jadi masalah *gak gitu juga sih*. Karna aku punya Fresh Care si aroma terapi yang baunya seger banget *ngiklan* Olesin ke leher, langsung deh glegek'en. Rekomendasi banget deh buat para pemabuk kendaraan. Joss banget. Baunya kalah sama semua parfum yang ada di dunia ini *lebaaayyy*. Tapi seger banget. Sumpah.
Image menyusul :D
Read More..
Sunday, June 12, 2011
|
By Rivki Novita Putri
Masih kelanjutan dari hari yang sama, Sabtu, 11 Juni 2011, usai bertualang di Ledok Sambi aku dan teman baikku melanjutkan perjalanan kami menuju GSP (Grha Saba Pramana) untuk sekedar menjadi suporter bagi tim robotik STMIK Amikom Yogyakarta dalam KRI (Kontes Robot Indonesia), tentu saja setelah membersihkan badan kami yang cukup bau keringat saat itu.
Dengan kostum seadanya dan "tak biasa", kami merambah tanah GSP dan mencoba menghubungi salah satu anggota tim robotik yang mau berbaik hati memasukkan kami ke dalam gedung kontes. Satu orang yang dapat kami hubungi namun tak bisa memasukkan kami ke dalam karena tak diperbolehkan oleh panitia (kagak ada tiket bro :D) dan juga karena dia sudah terlalu banyak memasukkan manusia-manusia Amikom tanpa tiket. Akhirnya kami pun duduk di depan gedung dan menghubungi teman dari teman baikku yang juga suporter tim robotik dari STMIK ASIA Malang. Tak lama bercengkrama, kami pun memutuskan untuk meninggalkan gedung itu dan menuju tujuan perjalanan kami di hari sabtu.
Tujuan berikutnya adalah Butik Viola yang terletak di pinggir Selokan Mataram. Butik bercat pink keungu-unguan itu menawarkan beragam baju, dress, sepatu, sandal, tas, dan aksesoris untuk wanita. Harganya yang cukup miring dengan model dan kualitas yang sama dengan butik-butik lainnya di Jogja, membuat kami tergiur untuk mengunjunginya. Meskipun tidak membeli salah satu dari barang-barang yang ditawarkan, namun itu cukup mengisi waktu luang kami di sabtu malam yang begitu cerah.
Usai melihat-lihat produk yang ditawarkan oleh Viola, kami lanjutkan perjalanan ini dan mendarat di rumah makan Laris, rumah makan langganan dengan menu bakaran yang bertempat di Nologaten, belakang Ambarukmo Plaza. Menu makan yang sedikit berbeda dari yang biasa kami santap tak begitu mengecewakan. Dan obrolan-obrolan "garing" yang penuh dengan kalimat "piye yo..." pun sedikit demi sedikit mulai memanas dan membuat lemas.
Dengan masalah yang berbeda-beda, namun tema yang sama. Adalah cinta yang menguras pikiran dan tenaga, dan juga waktu. Marah dan mengeluh, atau ikhlas dan biarkan mengalir seperti air. Dan kami pun mempunyai pilihan cerita tentang cinta: ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh seseorang yang mencintai dan kita cintai untuk menghadap Sang Kholiq; hati yang digantungkan oleh orang yang kita cintai, ditarik ulur seakan-akan tak berarti apapun di matanya, namun tetap setia menunggu jawabannya; kebimbangan atas dua orang yang kita cintai dan mungkin juga mencintai kita, namun ragu dan takut untuk mengejarnya dan bimbang untuk memilih salah satu karena alasan-alasan tertentu; memutuskan kekasih yang disayang karena tak suka dikekang atau sang kekasih yang terlalu over protected sehingga dengan berat hati memutuskan hubungannya.
Satu kesimpulan yang kami dapat dari obrolan itu. Kapan ya kami bisa punya pacar idaman dan pergi berdua di sabtu malam? Atau setidaknya seseorang yang dengan tulus ikhlas menemani kita di saat senang ataupun sedih, berbagi cerita hidup dan saling mendukung satu sama lain, saling memberi semangat ketika jatuh, dan saling menemani hingga maut memisahkan. Suatu saat itu pasti. Dan akhirnya, kami berdua pun kembali ke rumah kost-kostan di daerah Condong Catur dan tidur dengan kegundahan hati masing-masing.
Inilah perjalanan dan ceritaku di sabtu malam yang ramai, namun terasa sepi di hati yang terdalam.
[backsound: D'Cinnamons - Selamanya Cinta]
Read More..
Sunday, June 12, 2011
|
By Rivki Novita Putri
Hari apa yang paling spesial bagi kebanyakan masyakarat Indonesia diantara tujuh hari yang ada? Adalah Sabtu, dimana banyak orang yang mendewakan bahwa "sabtu malam" adalah hari kasih sayang bagi pasangan kekasih baik yang baru maupun yang sudah lama, bagi pasangan suami-istri, dan mungkin bagi pasangan kakek-nenek pula. Cukup bagus mendefinisikan hari sabtu malam sebagai hari kasih sayang bagi pasangan kekasih, namun bagiku hari sabtu tetaplah hari sabtu. Hari dimana semua orang di negeri tercinta ini dapat dengan bebas melakukan kegiatan diluar kegiatan rutinnya, entah untuk berkumpul bersama keluarga, berlibur, maupun untuk sekedar beristirahat melepaskan penat yang menumpuk setelah enam hari melakukan aktivitas rutinnya. Kenapa sabtu malam? Kupikir karena hari minggu adalah hari libur nasional bagi masyarakat negeri ini.
Sabtu, 11 Juni 2011, hari yang sangat melelahkan dan cukup menyenangkan meskipun masih saja ada bumbu-bumbu kesepian di hati yang paling dalam. Bermain (read. jalan) bersama salah seorang teman baik menjadi alternatif paling mujarab untuk mengusir kesepian di hari yang diagung-agungkan cukup banyak orang tersebut. Aku, yang sampai sekarang masih sendiri pun melakukan hal tersebut, karena berlibur bersama keluarga tak mungkin dilakukan untuk saat ini. Begitu pula dengan teman baikku.
Aku dan teman baikku memutuskan untuk membahagiakan diri kami dan sejenak melupakan beban hati masing-masing. Dan Flying Fox di Ledok Sambi-Kaliurang menjadi pilihan kami untuk melancarkan keinginan tersebut. Flying Fox sepanjang 200 meter di atas aliran lahar dingin Merapi cukup memacu adrenalin kami. Sungai yang terbentuk dari benturan-benturan material Merapi itu menjadi pemandangan Ledok Sambi saat ini. Hamparan pasir bercampur abu Merapi yang telah tergilas air, serta batu-batuan yang berukuran cukup besar kini menghiasi tempat rekreasi dan outbond yang dulunya nampak hijau dan asri. Namun sayangnya, kami tak membawa bekal kamera untuk mengabadikan moment ini.
Usai ber-flying fox ria, kami menjelajah area outbond di sana. Kami berjalan menuju lokasi outbond yang (saat ini) telah dipisahkan oleh material-material Merapi dan aliran sungai lahar dingin yang cukup deras. Menapaki material Merapi yang kini telah memadat dan jembatan bambu di atas aliran lahar dingin Merapi membuat tubuhku seakan masih ikut bergoyang begitu sampai di ujung jembatan. Beberapa tenda terpasang dengan megahnya di area itu. Juga bangunan berhias batu yang dulunya dijadikan penginapan bagi pengunjung kini telah disulap menjadi gudang penyimpanan kebutuhan rekreasi oleh pengelola.
Di perjalanan penjelajahan kami di area outbond, kami mendapati gemercik air yang keluar dari sebatang bambu yang ditancapkan dalam tanah di "perbukitan" itu. Aku yakin bahwa itu adalah air "tuk" atau mata air asli dari bukit itu. Karna kulihat air itu begitu jernih dan bening, mengalir dengan damainya dengan jalan yang telah terbentuk, dan mereka pun mengairi sawah-sawah di sekitarnya.
Tak cukup jauh dari tempat itu, kami bertemu dengan segerombolan anak lelaki usia 9-12 tahun sedang bermain di area outbond. Anak-anak yang mengaku bahwa dirinya "bolang" itu nampaknya warga dari desa setempat yang sedang iseng bermain di sana. "Kita tadi habis makan-makan mbak, ngrayain teman kita yang baru lulus tuh." Ungkap salah satu dari mereka menceritakan apa yang sedang mereka lakukan di sana, sambil menunjuk salah satu bocah yang dimaksud. Spontan kami iyakan saja omongan mereka karena kami juga melihat batangan kayu yang sudah menjadi arang di bawah tenda gubuk di pinggir area. Mereka juga sedikit mempertunjukkan kebolehkan mereka berjalan di atas bambu dengan kolam yang siap menangkap tubuh mereka jika tak kuasa menyeimbangkan tubuh mereka di atas bambu yang berukuran 5-7 meter. Sebelum beranjak pulang, mereka memberitahu kepada kami bahwa besok (hari ini) akan ada pertunjukan "lengger" di tempat itu dengan pemain para perangkat desa setempat. Bocah-bocah yang menarik, itu pikirku.
Seiring dengan kepulangan mereka ke habitatnya (read. rumahnya), aku dan teman baikku pun kembali ke pos awal dimana kami menitipkan helm kami. Keringat mengucur cukup deras dengan dukungan terik mentari yang masih bertahan tuk meyinari kegiatan kami. Dan akhirnya kami telah berjalan dari ujung hingga ke ujung dan kembali ke lagi ke ujung titik awal.
Setelah berpamitan dengan pengelola tempat, kami pun mengakhiri perjalanan itu dengan hati yang bungah dan berharap datang kembali ke tempat itu dengan membawa pasukan perang. Dan perjalanan kami di sabtu sore pun berlanjut menuju tempat lain, yaitu GSP (Grha Saba Pramana) menjadi tempat yang beruntung untuk kami kunjungi untuk sekedar memberi semangat kepada tim robotik STMIK Amikom Yogyakarta dalam KRI (Kontes Robot Indonesia). Meski pada akhirnya harapan kami untuk menjadi suporter yang baik tidaklah sama seperti apa yang telah kami pikirkan.
to be continued. . . ^.^
Read More..
Monday, September 06, 2010
|
By Rivki Novita Putri
Sudah menjadi kebiasaan sehari-hari jika berada di kampung halaman ketika bangun dari mimpi yang sangat panjang semalaman adalah melongok ruang tamu dan mencari-cari selebaran kertas-kertas yang bernama koran. Ada satu berita yang menurutku sangat menarik siang tadi. Yupz,,, kabar dari Harian Suara Merdeka yang tiap pagi sudah bertengger di depan pintu rumah orang tuaku. Tak lain dan tak bukan adalah membahas mengenai Dieng. Salah satu ikon wisata yang ada di kampung halamanku. Dari judulnya saja dah bisa bikin aku berguman, "Waooowww..... fantastis!!!".
Ternyata bukan hanya aku yang merasakan bahwa Dieng sekarang sudah tak seindah dulu lagi. Banyak sekali perubahan dari Dieng yang tiga tahun lalu masih sering kukunjungi bersama teman-temanku diwaktu luang. Selain sudah tak gratis lagi masuk ke kawasan Dieng, saat ini Dieng juga sudah tak seindah saat itu. Telaga Warna yang mulai menyurut airnya, Candi Dieng yang tak terawat, dan masih banyak sekali perubahan-perubahan yang seharusnya menjadi baik, malah menjadi tak terawat.
Dicuplik dari Harian Suara Merdeka Senin (6/9/10) halaman E kolom 3, bahwa berbagai kalangan saat ini banyak yang menilai prospek pariwisata kawasan Dataran Tinggi Dieng mulai meredup. Untuk mendorong kembali kepariwisataan, paling tidak kawasan butuh suntikan dana Rp 100 M.
Nah lo,,, butuh suntikan dana Rp 100 M. Duit semua tuh.... hehehe. . .
Padahal, menurut Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Wonosobo, "Kondisi alam Dieng jauh lebih bagus dari kawasan wisata Batu Malang, mengapa kita tidak bisa apa-apa...." Nah lo,,, di Batu kayak apa coba. . . setelah searching-searching tadi ternyata bagus juga ya di Batu. . .hehehehe. . . maklum lum pernah kesana, pas kesana ehh,,,ujan.... batal sudah. . . :d Tapi tak apa sih, di Batu kan nggak ada Carica. . . ^^ hahahaha. . . .
Nah, sekarang gimana nihh pemerintah Wonosobo buat ngatasin ne semua.... padahal Wonosobo tuw bagus banget lho kalau mau dirawat alias dikembangkan sektor pariwisatanya. Dari alamnya udah mendukung, tapi kalau dari SDM-nya aja lelat-lelet gitu ya sama aja. . . basi! Keburu mati tuh wisata....
Ya. . .ku berharap supaya pemerintah cepet tanggap terhadap permasalahan yang ada, terutama di sektor wisata. Kan banyak untungnya juga tow kalau wisata kebanggaan kita (Dieng) jadi berkembang. Pasti Wonosobo bakal lebih rame lagi. Jangan cuma ngurusin alun-alun doank dunk... tuw wisata utama kita diurusin... hehehe.... (tu satu kale mb'....).
Chayooo Wonosobo!!! ^^
Read More..