"Sabtu" Part II - Pilihan Cerita Cinta

Masih kelanjutan dari hari yang sama, Sabtu, 11 Juni 2011, usai bertualang di Ledok Sambi aku dan teman baikku melanjutkan perjalanan kami menuju GSP (Grha Saba Pramana) untuk sekedar menjadi suporter bagi tim robotik STMIK Amikom Yogyakarta dalam KRI (Kontes Robot Indonesia), tentu saja setelah membersihkan badan kami yang cukup bau keringat saat itu.

Dengan kostum seadanya dan "tak biasa", kami merambah tanah GSP dan mencoba menghubungi salah satu anggota tim robotik yang mau berbaik hati memasukkan kami ke dalam gedung kontes. Satu orang yang dapat kami hubungi namun tak bisa memasukkan kami ke dalam karena tak diperbolehkan oleh panitia (kagak ada tiket bro :D) dan juga karena dia sudah terlalu banyak memasukkan manusia-manusia Amikom tanpa tiket. Akhirnya kami pun duduk di depan gedung dan menghubungi teman dari teman baikku yang juga suporter tim robotik dari STMIK ASIA Malang. Tak lama bercengkrama, kami pun memutuskan untuk meninggalkan gedung itu dan menuju tujuan perjalanan kami di hari sabtu.

Tujuan berikutnya adalah Butik Viola yang terletak di pinggir Selokan Mataram. Butik bercat pink keungu-unguan itu menawarkan beragam baju, dress, sepatu, sandal, tas, dan aksesoris untuk wanita. Harganya yang cukup miring dengan model dan kualitas yang sama dengan butik-butik lainnya di Jogja, membuat kami tergiur untuk mengunjunginya. Meskipun tidak membeli salah satu dari barang-barang yang ditawarkan, namun itu cukup mengisi waktu luang kami di sabtu malam yang begitu cerah.

Usai melihat-lihat produk yang ditawarkan oleh Viola, kami lanjutkan perjalanan ini dan mendarat di rumah makan Laris, rumah makan langganan dengan menu bakaran yang bertempat di Nologaten, belakang Ambarukmo Plaza. Menu makan yang sedikit berbeda dari yang biasa kami santap tak begitu mengecewakan. Dan obrolan-obrolan "garing" yang penuh dengan kalimat "piye yo..." pun sedikit demi sedikit mulai memanas dan membuat lemas.

Dengan masalah yang berbeda-beda, namun tema yang sama. Adalah cinta yang menguras pikiran dan tenaga, dan juga waktu. Marah dan mengeluh, atau ikhlas dan biarkan mengalir seperti air. Dan kami pun mempunyai pilihan cerita tentang cinta: ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh seseorang yang mencintai dan kita cintai untuk menghadap Sang Kholiq; hati yang digantungkan oleh orang yang kita cintai, ditarik ulur seakan-akan tak berarti apapun di matanya, namun tetap setia menunggu jawabannya; kebimbangan atas dua orang yang kita cintai dan mungkin juga mencintai kita, namun ragu dan takut untuk mengejarnya dan bimbang untuk memilih salah satu karena alasan-alasan tertentu; memutuskan kekasih yang disayang karena tak suka dikekang atau sang kekasih yang terlalu over protected sehingga dengan berat hati memutuskan hubungannya.

Satu kesimpulan yang kami dapat dari obrolan itu. Kapan ya kami bisa punya pacar idaman dan pergi berdua di sabtu malam? Atau setidaknya seseorang yang dengan tulus ikhlas menemani kita di saat senang ataupun sedih, berbagi cerita hidup dan saling mendukung satu sama lain, saling memberi semangat ketika jatuh, dan saling menemani hingga maut memisahkan. Suatu saat itu pasti. Dan akhirnya, kami berdua pun kembali ke rumah kost-kostan di daerah Condong Catur dan tidur dengan kegundahan hati masing-masing.

Inilah perjalanan dan ceritaku di sabtu malam yang ramai, namun terasa sepi di hati yang terdalam.

[backsound: D'Cinnamons - Selamanya Cinta]

2 Responses
  1. ra Says:

    okelah. segalanya adalah pekok. aku kamu dia dan juga mereka, pekok-pekok semua.

    jelas sekali kau mendeskripsikannya. TT

    haha. *tawa kering*


  2. wkwkwkw. . . aku rak ngomong pekok og :p
    cuma ketoke dewe ki kurang gawean wae yo wingi kae :D
    ehhh,,, lali. mz2e "bali?" rung mlebu neng tulisanku, wkwwkkwk. . kae yo pekok ketoke deh,,, :


yuk, bercuap :)